Aku Mohon
Memanggil namamu
Tak kudengar suaramu
Lembayung nafas cintamu
Tak terpatri dalam jiwaku
Mengalun sendu pilu
Meneriaki dengan pelan: ya sudahlah…
Tinta kesabaranku telah habis
Tak berbekas dalam lembaran asa
Terurai menorah duka
Usangnya jiwaku turut mendukung
Pun telaga harapan jadi kering
Ditimba emosi egoisme
Nadir terbang dibawa angin
Tak kuasa aku menahannnya
Tak kuat aku mengenggamnya
(sembari hati memohon)
Selasa, 18 November 2014
Lelah Mengadu
Saat senyum sinis mulai nampak
Saat luka-luka pada harapan yang mulai luntur
Tersayat perih tak terbatalkan ini
Saat peluru menyerbu jiwa tak bersalah
Manakah janji yang diikrarkan??
Yang membunuh lautan nafas
Yang terekam bangkai-bangkai merajalela
Tanda tak ada cinta!!!
Kepada siapa aku mengadu
Undang-undang tergeletak di selokan
Diairi makian yang meraung terus…
Bau menyengat para pemulung
Pemulung kasih atau pemulung harta??
Kedua-duanya, itu pasti…
Debu datang mencibirku,”aku lebih mulia darimu”
Membunuhku lagi, kejam!!
Kepada siapa aku mengadu..
Melihatmu merampas lembaran hidup, katamu..
Melihatmu menenteng koper bertuliskan penguasa
Perih tak menentu di hati ini
Padahal langit kita sama..
Tak ada yang lebih hebat dan kuat
Tapi..kekuasaan menjadi senjata ampuhmu!
Sangar bengismu tak lebih dari sebuah pancingan
Yang bertahta atas dukungan palsu….
Murkamu menandingi skenario Pilatus!
Air tangannya kau simpan, bahwa kau ikut munafik..
Entah dunia sudah lelah menegurmu
Kau tetap saja jatuh…
08/12/2012
Selasa, 11 November 2014
Sempat Berlari & Rasa Tidur
Sempat Berlari
Berlari…
Mengangkat muka menatap asa
Menyernitkan dahi tanda tak siap
Tegang berusaha tergaris sudah
Mengucuri wajah elok
Dalam sebuah harapan
Berlari….
Tapak-tapak tak berbentuk cepat
Menyisahkan naluri bertahan
Tegar kuat mendaki
Saat tak mampu lagi
Berlari…
Kian beringas mencari takdir
Untaian nafsu bertaburan
Menginjak…mengisi pelan penuh tanya
Inikah arti hidup??
Dimakan gelora nafsu yang kian kilat
1/11/2011
Rasa Tidur
Terus merayu mata yang sudah lemah
Yang menutup kelopak
Seiring berpindah alam
Meretas bangkit dan bangun
Membakar kemelut hati
Bertahan namun tak sanngup
Terjerat godaannya yang selalu membelai
Membawa jiwa ke alam sana
Berlari…
Mengangkat muka menatap asa
Menyernitkan dahi tanda tak siap
Tegang berusaha tergaris sudah
Mengucuri wajah elok
Dalam sebuah harapan
Berlari….
Tapak-tapak tak berbentuk cepat
Menyisahkan naluri bertahan
Tegar kuat mendaki
Saat tak mampu lagi
Berlari…
Kian beringas mencari takdir
Untaian nafsu bertaburan
Menginjak…mengisi pelan penuh tanya
Inikah arti hidup??
Dimakan gelora nafsu yang kian kilat
1/11/2011
Rasa Tidur
Terus merayu mata yang sudah lemah
Yang menutup kelopak
Seiring berpindah alam
Meretas bangkit dan bangun
Membakar kemelut hati
Bertahan namun tak sanngup
Terjerat godaannya yang selalu membelai
Membawa jiwa ke alam sana
Aku Mohon
Aku Mohon
Memanggil namamu
Tak kudengar suaramu
Lembayung nafas cintamu
Tak terpatri dalam jiwaku
Mengalun sendu pilu
Meneriaki dengan pelan: ya sudahlah…
Tinta kesabaranku telah habis
Tak berbekas dalam lembaran asa
Terurai menorah duka
Usangnya jiwaku turut mendukung
Pun telaga harapan jadi kering
Ditimba emosi egoisme
Nadir terbang dibawa angin
Tak kuasa aku menahannnya
Tak kuat aku mengenggamnya
(sembari hati memohon)
Memanggil namamu
Tak kudengar suaramu
Lembayung nafas cintamu
Tak terpatri dalam jiwaku
Mengalun sendu pilu
Meneriaki dengan pelan: ya sudahlah…
Tinta kesabaranku telah habis
Tak berbekas dalam lembaran asa
Terurai menorah duka
Usangnya jiwaku turut mendukung
Pun telaga harapan jadi kering
Ditimba emosi egoisme
Nadir terbang dibawa angin
Tak kuasa aku menahannnya
Tak kuat aku mengenggamnya
(sembari hati memohon)
Lelah Mengadu
Lelah Mengadu
Kepada siapa aku mengadu
Saat senyum sinis mulai nampak
Saat luka-luka pada harapan yang mulai luntur
Tersayat perih tak terbatalkan ini
Saat peluru menyerbu jiwa tak bersalah
Manakah janji yang diikrarkan??
Yang membunuh lautan nafas
Yang terekam bangkai-bangkai merajalela
Tanda tak ada cinta!!!
Kepada siapa aku mengadu
Undang-undang tergeletak di selokan
Diairi makian yang meraung terus…
Bau menyengat para pemulung
Pemulung kasih atau pemulung harta??
Kedua-duanya, itu pasti…
Debu datang mencibirku,”aku lebih mulia darimu”
Membunuhku lagi, kejam!!
Kepada siapa aku mengadu..
Melihatmu merampas lembaran hidup, katamu..
Melihatmu menenteng koper bertuliskan penguasa
Perih tak menentu di hati ini
Padahal langit kita sama..
Tak ada yang lebih hebat dan kuat
Tapi..kekuasaan menjadi senjata ampuhmu!
Sangar bengismu tak lebih dari sebuah pancingan
Yang bertahta atas dukungan palsu….
Murkamu menandingi skenario Pilatus!
Air tangannya kau simpan, bahwa kau ikut munafik..
Entah dunia sudah lelah menegurmu
Kau tetap saja jatuh…
Kepada siapa aku mengadu
Saat senyum sinis mulai nampak
Saat luka-luka pada harapan yang mulai luntur
Tersayat perih tak terbatalkan ini
Saat peluru menyerbu jiwa tak bersalah
Manakah janji yang diikrarkan??
Yang membunuh lautan nafas
Yang terekam bangkai-bangkai merajalela
Tanda tak ada cinta!!!
Kepada siapa aku mengadu
Undang-undang tergeletak di selokan
Diairi makian yang meraung terus…
Bau menyengat para pemulung
Pemulung kasih atau pemulung harta??
Kedua-duanya, itu pasti…
Debu datang mencibirku,”aku lebih mulia darimu”
Membunuhku lagi, kejam!!
Kepada siapa aku mengadu..
Melihatmu merampas lembaran hidup, katamu..
Melihatmu menenteng koper bertuliskan penguasa
Perih tak menentu di hati ini
Padahal langit kita sama..
Tak ada yang lebih hebat dan kuat
Tapi..kekuasaan menjadi senjata ampuhmu!
Sangar bengismu tak lebih dari sebuah pancingan
Yang bertahta atas dukungan palsu….
Murkamu menandingi skenario Pilatus!
Air tangannya kau simpan, bahwa kau ikut munafik..
Entah dunia sudah lelah menegurmu
Kau tetap saja jatuh…
Jumat, 07 November 2014
Cahayaku
Dulu cahaya itu
masih ada
Dulu cahaya itu
masih masih menemaniku disini
Tapi cahaya itu kini
mulai memudar
Dan cahaya itupun
akhirnya pergi jauh
Cahayaku
Sebenarnya aku
merindukanmu
Bagaimana caranya
aku memberitahumu
Jika sekarang kau menjauhiku
Cahayaku...
Aku
benar benarmenginginkanmu
Berada
disini
Menemaniku
dalam gelapku
Mungkin
itu semua salahku
Yang
membuatmu pergi menjauh dariku
Tapi
sungguh, aku tak ingin kau jauh
Aku
ingin kau menjadi cahaya hidupku
Untuk
sekarang,nanti dan selamanya....
Sebuah harapan
Apakah kau masih
ingat
Waktu kita, kau dan
aku
Berpadu canda tawa
bersama
Mengalahkan eloknya
sinar matahari
Waktu terus bergulir
Hingga aku
terperngkap indahnya perhatian
Akan semua
kebaikanmu
Tapi sadarkah kamu?
Kini semua berubah
Karna sikapmu padaku
Aku
tak menggerti
Apa
salahku hingga kau menjauhiku
Tapi...
yang harus kamu tahu
Aku
percaya...
Tuhan
pasti akan menunjukannya
Semua
hal yang membuat menjadi kita
Oleh : Fitriyah
Jiwa pemimpin
Mereka
fikir, mereka yang terbaik
Selalau
ngomong tanpa difikir
Disini
menggujat, disana teriak
Semua
ingin jadi seorang pemenang..
Tapi...
Apakah mereka bisa diposisinya
Yang memegang tegus, atas sumpahnya
Andaikan
mereka tau..
Kalau sumpahnya
demi mereka
Meluangkan
waktu, tenaga dan fikiran
Hanya
untuk kemajuan mereka
Ketika berhasil, mereka diam
Seolah mereka tak melihat
Dan ketika, ia gagal
Mereka berkicau
Seolah tak mempunyai telinga
Semua bagaikan adat
Yang ada dinegeri ini
Selasa, 04 November 2014
Asal muasal Puisi
Puisi (dari bahasa Yunani kuno: ποιέω/ποιῶ (poiéo/poió) = I create) adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya.
Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan, meter dan rima adalah yang membedakan puisi dari prosa. Namun perbedaan ini masih diperdebatkan. Beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literatur tapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas.
Baris-baris pada prosa dapat berbentuk apa saja (melingkar, zigzag, dll). Hal tersebut merupakan salah satu cara penulis untuk menunjukkan pemikirannnya. Puisi terkadang juga hanya berisi satu kata/suku kata yang terus diulang-ulang. Bagi pembaca hal tersebut mungkin membuat puisi tersebut menjadi tidak dimengeti. Tapi penulis selalu memiliki alasan untuk segala 'keanehan' yang diciptakannya. Tak ada yang membatasi keinginan penulis dalam
Badai yang tak Berlalu
Badai yang tak Berlalu
by : Murder of Love
Kenapa ku salahkan Badai, bila kapal karam
Mengapa ku berlayar, bila sudah tau akan bencana
Apa aku salah menyalahkan sebab,
Apa aku mengerti akan datang masa,
Sebab yang akibatnya terlalu puruk.
Masa dimana penghabisan akan datang,
Akankah kita mengerti bahwa penghabisan itu adalah suatu dari awal,
Awal yang memulai tanpa harus dimengerti,
Awal yang membuat kita mengerti pula ujian,
Aku terlena mengindahkan peringatan,
Peringatan yang datang tanpa harus di siarkan,
Peringatan yang pergi tanpa harus di larang,
Pencarianku telah usai,
Pencarianku sudah pada ujungnya,
Pencarianku meminta dan memanggil,
Sayang, apakah engkau senang aku datang ke sisimu kini,
Dan berseri menyambutku,
Tetapi kenapa engkau berpaling,
Menghujat tanpa memberikan alasan,
Membuang wajahmu tenggelam dalam laut,
Tetapi kenapa, kenapa,
Apakah aku salah,
Salah menyambut bintangku yang telah lama pudar,
Membuat kebahagian bersama Bumi dan Bulan,
Aku mengerti sekarang,
Dan mendapat jawaban atas kepergianmu,
Mencoba bermain dengan takdir,
Engkau hanyalah sebuah tadir yang telah terga
by : Murder of Love
Kenapa ku salahkan Badai, bila kapal karam
Mengapa ku berlayar, bila sudah tau akan bencana
Apa aku salah menyalahkan sebab,
Apa aku mengerti akan datang masa,
Sebab yang akibatnya terlalu puruk.
Masa dimana penghabisan akan datang,
Akankah kita mengerti bahwa penghabisan itu adalah suatu dari awal,
Awal yang memulai tanpa harus dimengerti,
Awal yang membuat kita mengerti pula ujian,
Aku terlena mengindahkan peringatan,
Peringatan yang datang tanpa harus di siarkan,
Peringatan yang pergi tanpa harus di larang,
Pencarianku telah usai,
Pencarianku sudah pada ujungnya,
Pencarianku meminta dan memanggil,
Sayang, apakah engkau senang aku datang ke sisimu kini,
Dan berseri menyambutku,
Tetapi kenapa engkau berpaling,
Menghujat tanpa memberikan alasan,
Membuang wajahmu tenggelam dalam laut,
Tetapi kenapa, kenapa,
Apakah aku salah,
Salah menyambut bintangku yang telah lama pudar,
Membuat kebahagian bersama Bumi dan Bulan,
Aku mengerti sekarang,
Dan mendapat jawaban atas kepergianmu,
Mencoba bermain dengan takdir,
Engkau hanyalah sebuah tadir yang telah terga
Without Means ( Tanpa Arti )
Without Means ( Tanpa Arti )
Selalu aja...
Mengulang cerita dan kisah yang kita sendiri ga akan pernah tahu kapan dan dimana harus berhenti,
Tanpa sesuatu petunjuk arah, mata angin, tempat berpijak, atau pun sebuah ranting sekalipun untuk berpegangan,
Sesekali kita merasa...bahwa arah kita ini menuju surga, tetapi kita juga takut apakah benar arah kita...ataukah salah arah tujuan kita,
Dosa atau tidak kah kita,
Kita tidak akan pernah juga mengira bahwa ternyata pelabuhan kita nantinya sangatlah Tua, Renta, Kesendirian,
Apabila kita merasa bahwa ending-nya akan gagal, kita bisa dengan cepat memutuskan dan berpaling lari jauh darinya,
Lari..lari...dan terus berlari-lari jauh dengan tidak sedikitpun berpaling kebelakang,
Setelah jauh berlari...
Apakah kita menemukan tumpuan baru untuk berpijak,
Apakah kita bisa merubah sesuatu yang telah melekat dengan hati dan pikiran kita,
Apakah kita mencoba mengharapkan sesuatu yang baru dan belum pernah kita alami...berubah tanpa adaptasi,
Kita masing-masing diciptakan untuk beradaptasi,
Kita masing-masing punya kemampuan untuk bertahan dari segala hal,
Tetapi apakah kita bisa hidup tanpa hati,pikiran dan bayang-bayang masa lalu yang melekat,
Terutama pada bayang-bayang yang tidak atau belum terselesaikan,
Selesaikan lah sejenak masalah yang ada dihadapan kita,
Janganlah kita berpikiran bahwa lari adalah sesuatu yang bisa terselesaikan dengan mudah,
Janganlah kita berpikiran bahwa masalah datang selalu kepada kita,
Janganlah kita berpikiran bahwa kita adalah pembuat masalah,
Karena tanpa masalah, apalah arti hidup ini,
hanya bisa merasakan,
LAHIR, TUMBUH, MATI
Bagaikan sebuah tanaman yang hanya bila waktunya tiba dia akan mati.
Berbahagialah kita atas apa yang telah diciptakan-Nya untuk kita, dari yang menurut pandangan kita BAHAGIA maupun DERITA.
karena itu semua adalah KARUNIA yang tidak semuanya mengalami.
Mengulang cerita dan kisah yang kita sendiri ga akan pernah tahu kapan dan dimana harus berhenti,
Tanpa sesuatu petunjuk arah, mata angin, tempat berpijak, atau pun sebuah ranting sekalipun untuk berpegangan,
Sesekali kita merasa...bahwa arah kita ini menuju surga, tetapi kita juga takut apakah benar arah kita...ataukah salah arah tujuan kita,
Dosa atau tidak kah kita,
Kita tidak akan pernah juga mengira bahwa ternyata pelabuhan kita nantinya sangatlah Tua, Renta, Kesendirian,
Apabila kita merasa bahwa ending-nya akan gagal, kita bisa dengan cepat memutuskan dan berpaling lari jauh darinya,
Lari..lari...dan terus berlari-lari jauh dengan tidak sedikitpun berpaling kebelakang,
Setelah jauh berlari...
Apakah kita menemukan tumpuan baru untuk berpijak,
Apakah kita bisa merubah sesuatu yang telah melekat dengan hati dan pikiran kita,
Apakah kita mencoba mengharapkan sesuatu yang baru dan belum pernah kita alami...berubah tanpa adaptasi,
Kita masing-masing diciptakan untuk beradaptasi,
Kita masing-masing punya kemampuan untuk bertahan dari segala hal,
Tetapi apakah kita bisa hidup tanpa hati,pikiran dan bayang-bayang masa lalu yang melekat,
Terutama pada bayang-bayang yang tidak atau belum terselesaikan,
Selesaikan lah sejenak masalah yang ada dihadapan kita,
Janganlah kita berpikiran bahwa lari adalah sesuatu yang bisa terselesaikan dengan mudah,
Janganlah kita berpikiran bahwa masalah datang selalu kepada kita,
Janganlah kita berpikiran bahwa kita adalah pembuat masalah,
Karena tanpa masalah, apalah arti hidup ini,
hanya bisa merasakan,
LAHIR, TUMBUH, MATI
Bagaikan sebuah tanaman yang hanya bila waktunya tiba dia akan mati.
Berbahagialah kita atas apa yang telah diciptakan-Nya untuk kita, dari yang menurut pandangan kita BAHAGIA maupun DERITA.
karena itu semua adalah KARUNIA yang tidak semuanya mengalami.
SEJARAH DAN ASAL USUL
SEJARAH DAN ASAL USUL
Perkembangan Adanya Puisi di dunia
Puisi secara umum terdiri dari 6 unsur, yaitu: tema, imajinasi, amanat, nada, suasana, dan perasaan. Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya berarti penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan –poet dan -poem. Mengenai kata poet, Coulter (dalam Tarigan, 1986:4) menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta.
Sejarah Puisi
Puisi
sebagai bentuk seni dapat mendahului melek. Banyak karya kuno, dari
Veda India (1700-1200 SM) dan Zoroaster's Gathas (1.200-900 SM) ke
Odyssey (800-675 SM), tampaknya telah disusun dalam bentuk puisi untuk
membantu menghafal dan lisan, dalam prasejarah dan masyarakat kuno.
Puisi muncul di antara catatan-catatan paling awal kebudayaan paling
melek huruf, dengan puitis fragmen-fragmen yang ditemukan pada awal
monolit, runestones, dan stelae.Tradisi Barat
Puisi yang tertua adalah Epos Gilgames, dari milenium ke-3 SM di Sumeria (di Mesopotamia, sekarang Irak), yang ditulis dalam naskah tulisan kuno berbentuk baji pada tablet tanah liat dan, kemudian, papirus. puisi epik kuno lainnya termasuk Yunani epos Illiad dan Odyssey, Old Iran buku-buku yang Gathic dan Yasna Avesta, epik nasional Romawi, Virgil Aeneid, dan India epos Ramayana dan Mahabharata.
Upaya para pemikir kuno untuk menentukan apa yang membuat puisi khas sebagai bentuk, dan apa yang membedakan puisi yang baik dari buruk, mengakibatkan dalam "puisi"-studi tentang estetika puisi. Beberapa masyarakat kuno, seperti Cina melalui Shi Jing, salah satu dari Lima Klasik Konfusianisme, dikembangkan kanon dari karya-karya puitis yang ritual serta pentingnya estetika. Baru-baru ini, para pemikir telah berjuang untuk menemukan definisi yang bisa mencakup perbedaan formal sama besarnya dengan yang antara Chaucer Canterbury Tales dan Matsuo Oku Bashō itu tidak Hosomichi, serta perbedaan dalam konteks agama Tanakh mencakup puisi, puisi cinta, dan rap.
Context dapat penting untuk puisi dan pengembangan genre dan bentuk puitis. Puisi yang mencatat peristiwa bersejarah dalam epos, seperti Gilgames atau Firdausi's Shahnameh,akan selalu menjadi panjang dan narasi, sementara puisi yang digunakan untuk keperluan liturgi (lagu pujian, mazmur, suras, dan hadis-hadis) cenderung memiliki inspirasi nada, sedangkan elegi dan tragedi yang dimaksudkan untuk menimbulkan tanggapan emosional yang dalam. Konteks lain termasuk nyanyian Gregorian, formal atau diplomatik pidato,retorika politik dan makian, cahaya-hati pembibitan dan omong kosong sajak, dan bahkan teks-teks kedokteran.
Sejarawan Polandia estetika, Władysław Tatarkiewicz, dalam sebuah makalah tentang "Konsep Puisi," jejak evolusi dari apa yang sebenarnya dua konsep puisi. Tatarkiewicz menunjukkan bahwa istilah tersebut diterapkan pada dua hal yang berbeda, sebagai penyair Paul Valéry mengamati, "pada titik tertentu menemukan persatuan. Puisi adalah seni berdasarkan bahasa. Tapi puisi juga memiliki arti yang lebih umum yang sulit untuk menentukan karena kelebihan dan kekurangannya
Asal-Usul Puisi
Asal-Usul Puisi
Dapat disimpilkan bahwa pengertian puisi secara garis besarnya adalah perasaan penyair yang ungkapkan dalam pilihan kata yang cermat, serta mengandung imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan pancaindera, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur. Sedangkan puisi medern adalah puisi yang berkembang di Indonesia setelah masa penjajahan belanda atau setelah kemerdekaan Indonesia.
Jenis-Jenis Puisi Berdasarkan Bentuk dan Isinya
- Ode : Puisi yang berisi pujian terhadap seseorang yang memiliki jasa ataupun sikap kepahlawanan.
- Himne : Puisi yang berisi pujian terhadap tuhan maupun ungkapan rasa cinta terhadap bangsa dan tanah air.
- Elegi : Puisi ratapan yang mengungkapkan rasa pedih dan kedukaan seseorang.
- Romance : Puisi yang berisi luapan rasa cinta seseorang terhadap sang kekasih.
- Puisi Didaktik : Puisi yang mengandung nilai-nilai kependidikan yang umumnya ditampilkan secara eksplisit.
- Puisi Satirik : Puisi yang mengandung sindiran atau kritik tentang kepincangan atau ketidakberesan kehidupan suatu kelompok maupun suatu masyarakat.
- Puisi Dramatik : Puisi yang objektif,menggambarkan perilaku seseorang, baik lewat dialog maupun monolog sehingga mengandung suatu gambaran kisah tertentu.
- Puisi Lirik :Puisi yang berisi luapan batin individual penyairnya dengan segala macam endapan pengalaman,sikap maupun suasana batin yang melingkupinya.
- Puisi Naratif : Puisi yang mengandung suatu cerita menjadi pelaku, perwatakan, setting, maupun rangkaian peristiwa tertentu yang menjalin suatu cerita.
- Puisi Efik : Puisi yang didalamnya mengandung cerita kepahlawanan, baik kepahlawanan yang berhubungan dengan legenda, kepercayaan maupun sejarah.
Bentuk puisi baru berdasarkan jumlah barisnya
- Distikhan -> sajak dua seuntai
- Terzina -> Sajak tiga seuntai
- Kuatren -> Sajak empat seuntai
- Kuint -> Sajak lima seuntai
- Sektet -> Sajak enam seuntai
- Septina -> Sajak tujuh seuntai
- Oktaf -> Sajak delapan seuntai
- Soneta -> Sajak yang terdiri atas 14 dan empat bait umumnya berpola 4-4-3-3
Puisi dan Jiwa Pengusaha
Puisi dan Jiwa Pengusaha
JAKARTA, KOMPAS.com--Pengusaha jangan hanya dilihat sebagai sosok yang berbisnis meraup keuntungan besar saja, tak peduli dengan lingkungan. Mereka pun punya kepekaan sosial, kenyataan sehari-hari yang dicerna dengan nurani, dan juga punya kegelisahan tersendiri akan kejadian yang dihadapi. Melalui puisi, kegelisahan (dan kepedulian) itu dicatat, dibukukan, meski dalam usia yang tak lagi muda.
Puisi merupakan “obat” mujarab dalam menghadapi tekanan demi tekanan, stress dan mampu menjadi penyeimbang jiwa. Puisi juga bisa menjadi ruang untuk keluar dari bayang dunia sehari-hari yang dilakoni seseorang. Di situ ada pekerjaan dan tanggungjawab yang disandang penulisnya, berangkat dari berbagai kenyataan yang dihadapi dan dinilainya dengan hati nurani.
Hal itu disampaikan oleh tiga penulis yang sehari-hari berprofesi sebagai pengusaha kelas atas, Slamet Widodo, Agustus Sani Nugroho dan Irawan Massie saat tampil bersama dalam dialog di Sastra Reboan, Rabu (29/10) malam. Mereka baru bertemu pertama kalinya, dan itu terjadi di panggung yang diadakan di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan setiap hari Rabu akhir bulan itu.
Slamet Widodo yang pengusaha real estat telah menelorkan 7 buku kumpulan puisinya, Irawan Massie (mantan eksekutif di bank swasta dan perusahaan nasional) juga telah menerbitkan kumpulan puisinya sejak 1992, dan Agustus Sani Nugroho (corporate lawyer dan pemilik beberapa perusahaan) telah mengeluarkan kumpulan puisi “Mata Hati” dan novel “Akuisisi”.
“Menulis puisi adalah sebuah pekerjaan dan tanggungjawab, dan itu akan lebih terasa jika dibukukan. Perkembangan saat ini dengan adanya penerbitan indie hendaknya menjadi pendorong bagi para penulis untuk berani menerbitkan bukunya,”ujar Agustus Sani Nugroho.
Dialog yang dipandu oleh Yo Sugianto, Ketua Sastra Reboan itu hadir di tengah acara yang mengambil tema “Bahaya Bahasa”, yang dibuka dengan pembacaan puisi “Jiwa” karya R.A Kartini, dibawakan oleh Masita Riany (yang juga menjadi MC bersama penyair Setiyo Bardono). Hilda Wimar lalu tampil membawakan “Surat Untuk Obam”.
Seperti biasa, Sastra Reboan juga menampilkan musik, kali ini Andreas Presley dan kawan-kawan, yang mampu membius pengunjung dengan lagu-lagu slow rock dan pop seperti dari Rod Stewart dan Ben E King.
Perpaduan musik dan puisi menghangatkan malam yang diwarnai kemacetan di berbagai sudut Jakarta, seperti lewat kolaborasi dadakan antara Andreas Presley dkk dengan Branjangan, dan penampilan memikat dari Ni Puti Putri Suastini, Imam Ma’arif dan Dhenok Kristanti. Putri misalnya, mampu menghadirkan getar lewat puisi karya Dhenok diiringi petikan gitar bernuansa blues, dan Imam yang ekspresif membawakan puisi karya Slamet Widodo.
Malam itu memang pembacaan puisi lebih dominan. Diskusi buku yang direncanakan menghadirkan Akmal Nasery Basral, penulis novel “Rahasia Imperia” tidak jadi berlangsung karena sang penulisnya sedang sakit. Sementara Rini Intama yang mau membaca puisi karyanya tertawan macet jalanan.
Namun, penulis seperti Weni Suryandari yang menempuh perjalanan dari Bekasi berhasil menghindari kemacetan itu, dan membawakan puisinya. Begitu juga Pringadi Abdi Surya yang sudah lama tak tampil di Sastra Reboan setelah bertugas di Sumbawa, NTB,dan Umi Widarti yang terbilang lama tak tampil di panggung. Penyair yang sudah malang melintang di dunia sastra, Dharmadi juga tampil membawakan satu puisinya, dari bukunya “Kalau Kau Rindu Aku”.
Sedangkan Martha Sinaga, penyair dan novelis yang sudah menerbitkan banyak buku, selain sebagai jurnalis, sudah datang terlebih dahulu sebelum acara dimulai. Martha yang baru pertama kali di Sastra Reboan tampil memikat dengan dua puisinya.
Dua pembaca puisi lainnya adalah Petrus yang dikenal sebagai penyair Bohemian, dan Fendi Kacong dari Komunitas Jerami, Sumenep. “Saya senang bisa tampil di sini, dan ingin kembali lagi,”ujar Fendi.
Malam makin bergulir mendekati pukul 23.00 wib saat Sastra Reboan ditutup oleh Andreas Presley dkk, yang datang menembus kemacetan dari Tangerang, lewat I Can’t Get No Satisfaction dan Honky Tonk Woman-nya Rolling Stones. ***
Langganan:
Postingan (Atom)